Kamis, 02 Agustus 2012

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN ENCHEPALITIS

A. PENGERTIAN
  • Encephalitis adalah infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau mikroorganisme lain yang non purulent.
  • Encephalitis adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikroorganisme. Terminologi encefalopati yang dulu dipakai untuk gejala yang sama, tanpa tanda- tanda infeksi sekarang tidak dipakai lagi. (Abdoerrachman, dkk, 1985)

B. ETIOLOGI

Berbagai macam organisme dapat menimbulkan Encephalitis, misalnya bakteria, protozoa, cacing, jamur, spirokaeta, dan virus. Penyebab yang tersering adalah virus. Infeksi dapat terjadi karena virus langsung menyerang otak atau reaksi radang akut karena infeksi sistemik atau vaksinasi terdahulu. Encephalitis juga dapat diakibatkan oleh invasi langsung cairan serebrospinal selama pungsi lumbal. Berbagai jenis virus dapat menimbulkan Encephalitis, meskipun gejala klinisnya sama. Sesuai dengan jenis virus serta epidemiologinya, diketahui berbagai macam Encephalitis virus.

Klasifikasi yang diajukan oleh Robin adalah:

  1. Infeksi virus yang bersifat epidemik
  • Golongan anterovirus: poliomyelitis, virus coxcaskie, virus echo.
  • Golongan virus arbo: western equire encephalitis, St. Louis encephalitis, Eastern equire encephalitis, Russian spring summer encephalitis, Murray valley encephalitis.
  1. Infeksi virus yang bersifat sporadik: rabies, herpes simpleks, herpes zoster, limfogranuloma, mumps, lymphocytic choriomeningitis, dan jenis lain yang dianggap disebabkan oleh virus tapi belum jelas.
  2. Encephalitis pasca- infeksi: pasca- morbili, pasca- varisela, pasca- rubella, pasca vaksinia, pasca- mononukleosis, infeksious, dan jenis- jenis yang mengikuti infeksi traktus respiratorius yang tidak spesifik.
  3. Meskipun Indonesia secara klinis dikenal banyak kasus encephalitis tetapi baru Japanese B encepalitis yang ditemukan.

C. TANDA DAN GEJALA
  1. Gejala klinis Encephalitis tidak spesifik, tergantung dari penyebab dan luas dari daerah yang terkena infeksi. Umumnya didapatkan suhu yang mendadak naik, sebelum kesadaran menurun, sering mengeluh nyeri kepala, muntah sering ditemukan, lethargi, photofobi, kadang- kadang desertai kaku kuduk apabila infeksi mengenai meningen.
  2. Anak tampak irritabel, gelisah kadang disertai perubahan tingkah laku. Dapat disertai gangguan penglihatan, pendengaran, bicara, dan kejang. Kejang dapat bersifat umum atau fokal atau hanya twitching saja. Kejang dapat berlangsung berjam- jam, gejala serebrum yang beraneka ragam dapat timbul sendiri- sendiri atau bersama- sama, misalnya paresis atau paralisis, afasia, dan sebagainya.
  3. Liquor serebrospinalis sering dalam batas normal, kadang- kadang ditemukan sedikit peninggian jumlah sel, kadar protein atau glukosa.
  4. Elektroencefalografi(EEG) sering menunjukkan aktivitas listrik yang menurun.
  5. Tanda dan gejala lain yang sering muncul yaitu:
  • o Rigiditas nukal
  • o Tanda kernis
  • o Ataksia
  • o Kelemahan otot
  • o Diplopia
  • o Konfusi
  • o Irritabilitas
  • o Koma

D. KOMPLIKASI
  • Encephalitis juga dapat terjadi sebagai komplikasi campak, gondongan(mumps) atau cacar.
  • Komplikasi awal Encephalitis meliputi sistem jantung, pernapasan dan neurologik biasanya mengenai batang otak.
  • Encephalitis dapat menyebabkan defek neurologik sisa setelah pemulihan.

E. PATOFISIOLOGI
Penyebab terbanyak adalah infeksi virus:
  1. 1. Encephalitis clearly : Akibat invasi langsung virus pada jaringan susunan saraf pusat yang mengakibatkan kerusakan
  2. Pada infeksi Encephalitis ada 2 type:
  • disebabkan reaksi antigen antibodi pada infeksi sistemik
  • disebabkan efek neurotoksik pada infeksi sistemik



F. PENATALAKSANAAN
  1. Pemeriksaan cairan serebrospinal : Warna jernih terdapat pleocytosis berkisar antara 50- 2000 sel. Dimana sel limfosit merupakan sel yang dominan, protein agak meningkat, sedangkan glukosa dalam batas normal.
  2. Pemeriksaan EEG : Memperlihatkan proses inflamasi yang difuse “Bilateral” dengan aktivitas rendah.
  3. Pemeriksaan virus : Ditemukan virus pada CNS. Didapatkan kenaikan titer antibodi yang spesifik terhadap virus penyebab.
  4. Pengobatan pada encephalitis dilakukan dalam 2 cara:
  • pengobatan penyebab : Diberikan apabila jenis virus diketahui., Herpes encephalitis: adenosine arabinose 15mg/kgBB/hari selama 5 hari.
  • pengobatan suportif : Sebagian besar pengobatan encephalitis adalah pengobatan non spesifik yang bertujuan mempertahankan fungsi organ tubuh.

Pengobatan tersebut antara lain:
  1. ABC ( Airway, Breathing, Circulation) harus dapat dipertahankan sebaik- baiknya.
  2. Pemberian makanan secara adekuat baik secara interal maupun parenteral dengan memperhatikan jumlah kalori, protein, keseimbangan cairan elektrolit dan vitamin.
  3. Obat- obatan yang lain apabila diperlukan harus diberikan agar keadaan umum penderita tidak bertambah jelek. Misal:
  4. Hiperpireksia, diberikan:
  • antipiretik paracetamol 10 mg/ kgBB/ X
  • kompres dingin
     5. Kejang, diberikan:
  • Diazepam 0,3- 0,5mg/kgBB/X diikuti dengan oemberian
  • Fenitoin 2 mg/ kgBB/ X untuk rumatan.
      6. Edema otak, diberikan:
  • steroid: dexametasone 0,5 mg/ kgBB/ X dilanjutkan dengan dosis 0,1 mg /kg BB/ X tiap 6 jam.
  • Monitol dosis 1-2 gr/ kgBB selama  15 menit diulangi 8- 12 jam apabila diperlukan.
Perawatan:
  • Mata: cegah adanya exposure keratitis dengan pemberian BWC atau salep antibiotika.
  • Cegah decubitus: dengan merubah posisi penderita tiap 2 jam
  • Penderita dengan gangguan menelan dan akumulasi sekret lakukan postural drainage dan aspirasi mekanis.

G. PENGKAJIAN

Gejala mungkin terjadi secara bertahap, tetapi dapat juga terjadi secara akut
  1. Sakit kepala
  2. Suhu tinggi
  3. Ridgiditas nukal
  4. Tanda kernig
  5. Ataksia
  6. Kelemahan otot
  7. Paralisis
  8. Diplopia
  9. Konfusi
  10. Iritabilitas
  11. Letargi
  12. Koma.

H. DIAGNOSA DAN RENCANA KEPERAWATAN

1. Perubahan perfusi jaringan otak berhubungan dengan proses peradangan, peningkatan TIK
Intervensi :
  • Observasi tingkat kesadaran
  • Periksa status neurologi tiap 1-2 jam dan jika perlu sampai keadaan stabil
  • Monitor tanda-tanda kenaikan TIK (peningkatan TD, peurunan nadi, nafas tidak teratur, gelisah, perubahan pupil)
  • Tinggikan kepala 30o dari tempat tidur
  • Pertahankan agar leher dan kepala tetap lurus untuk memperbaiki venous return
  • Ajari anak untuk menghindari valsava manuever(batuk, bersin)
  • Monitor tanda/gejala septic syok (hipotensi, peningkatan suhu, peningkatan RR, kebingungan, disorientasi, vasokonstriksi perifer)

2. Resiko injury berhubungan dengan disorientasi, kejang, dan lingkungan yang belum dikenal
Intervensi :
  • Observasi tingkat kesadaran
  • Periksa status neurologi tiap 1-2 jam dan jika perlu sampai keadaan stabil
  • Pertahankan lingkungan yang tenang dan nyaman
  • Batasi jumlah pengunjung
  • Ajarkan latihan ROM (pasif, aktif)sesuai anjuran dan secara rutin
  • Kolaborasi pemberian anti konvulsi

3. Perubahan proses berfikir berhubungan dengan perubahan tingkat kesadaran
Intervensi :
  • Observasi tingkat kesadaran
  • Periksa status neurologi tiap 1-2 jam dan jika perlu sampai keadaan stabil
  • Monitor tanda-tanda kenaikan TIK
  • Bicaralah dengan pelan dan jelas
  • Pertahankan lingkungan yang tenang dan nyaman
  • Batasi jumlah pengunjung

4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, fatigue, mual, dan muntah
Intervensi :
  • Tanyakan makanan kesukaan anak
  • Sediakan diet sesuai anjuran
  • Sajikan makanan dalam porsi sedikit tapi sering
  • Anjurkan untuk makan secara perlahan
  • Ijinkan keluarga untuk menyediakan makanan untuk anak
  • Monitor BB tiap hari
  • Ciptakan lingkungan yang menyenangkan
  • Anjurkan anggota keluarga menemani anak saat makan
  • Batasi intake cairan selama makan
  • Berikan perawatan mulut yang baik

5. Perubahan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan iritasi encephalon
Intervensi :
  • Kaji tingkat nyeri
  • Evaluasi indikator nyeri (ekspresi wajah, menangis), lokasi, durasi, penyebaran, intensitas, dan faktor pencetus
  • Lakukan tindakan untuk mendukung kenyamanan (perubahan posisi, imajinasi, distraksi, masase, kompres dingin)
  • Ajarkan kepada anak untuk menghindarigerakan yang dapat meningkatkan TIK (batuk, bersin, membungkuk, tegang)
  • Batasi pengunjung
  • Kolaborasi pemberian analgesik


DAFTAR PUSTAKA

Greenberg, Cindy Smith. 2008. Nursing Care Plan for Children. USA : William and Wilkins

Harianto, Agus dkk. 2004. Pedoman Diagnosis dan Terapi LAB/ UPF Ilmu Kesehatan Anak. Surabaya : UNAIR

Mansjoer Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Jakarta : Aesculapius.

Nelson. Ilmu Kesehatan Anak.

Pusat Pendididkan Tenaga Kesehatan. 2009. Perawatan Bayi dan Anak Edisi 1. Jakarta : Depkes RI

Rillitteri, Adele. 2006. Buku Saku Perawatan Kesehatan Ibu dan Anak (Alih Bahasa). Jakarta : EGC

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 2005. Buku Kuliah 2 ilmu kesehatan anak cetakan 8 (2004). Jakarta : bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI

Suharso, Darto. 20044. Pedoman Diagnosis dan Terapi Lab UPF Ilmu Kesehatan Anak. Surabaya : RSUD dr. Soetomo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar